Previous Next

Kantor Wilayah Bea Cukai Banten bersama dengan Kejaksaan Tinggi Banten melaksanakan Pemusnahan Barang Milik Negara dan Barang Bukti yang telah diputus Pengadilan Negeri dirampas untuk Negara eks Penindakan di lingkungan Kantor VVilayah Bea Cukai Banten periode tahun 2018 s.d. 2019 bertempat di Pelabuhan Merak Mas, J1. Pulorida No. 72 Merak, Cilegon.

Barang Hasil Penindakan yang dimusnahkan tersebut berasal dari 77 penindakan atas pelanggaran UU Cukai yang berhasil digagalkan oleh Kanwil Bea Cukai Banten, Kantor Bea Cukai Merak, dan Kantor Bea Cukai Tangerang, yaitu 4.474 botol minuman beralkohol eks impor, 2.029,80 liter minuman beralkohol tradisional jenis ciu, 3.066.208 batang rokok, 101,70 liter liquid vape dan 1,10 liter essence liquid vape, dan 240 botol Minuman Beralkohol eks. Impor dan lokal.

Modus pelanggaran UU Cukai yang dilakukan oleh pelaku yaitu menjual minuman beralkohol tanpa ijin NPPBKC, dan menjual minuman beralkohol, rokok, dan liquid vape yang dilekati pita cukai palsu dan/atau tidak dilekati pita cukai.

Nilai Barang Hasil Penindakan yang dimusnahkan sebesar Rp 3,16 Miliar dan potensi kerugian negara yang berhasil diselamatkan sebesar Rp 4,45 Miliar serta kerugian imateril berupa gangguan kesehatan, ketertiban, dan keamanan yang bisa dialami oleh masyarakat.

Kanwil Bea Cukai Banten, Kantor Bea Cukai Merak, dan Kantor Bea Cukai Tangerang telah melakukan koordinasi dengan Kanwil Ditjen Kekayaan Negara Banten, Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Serang, dan Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Tangerang 11 atas peruntukan Barang Milik Negara eks penindakan tersebut dan telah ditetapkan untuk DIMUSNAHKAN. Sedangkan Barang Hasil Penindakan yang disita Penyidik Bea Cukai sebagai Barang Bukti telah diputus Pengadilan Negeri dirampas Negara untuk DIMUSNAHKAN.

Proses pemusnahan minuman beralkohol (kemasan botol) dan liquid vape dimusnahkan dengan cara digilas menggunakan alat berat, rokok dimusnahkan dengan cara dibakar, dan pemusnahan minuman beralkohol tradisional (CIU) dengan cara ditumpahkan ke tanah. Dalam rangka menjalankan tugas dan fungsi DJBC sebagai revenue collector, community profector, trade facilitator dan industrial assistance, maka peran pengawasan menjadi hal yang vital untuk mendukung terciptanya iklim usaha yang kondusif bagi pertumbuhan perekonomian nasional. Dan hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Bea Cukai untuk bergerak seimbang antara pengawasan dan pelayanan.

 

 

Previous Next

Tangerang Selatan, 25 November 2019 – Semakin maraknya Importasi Limbah Non-Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dengan tujuan pemasukan ke Tempat Penimbunan Berikat (TPB) di bawah pengawasan Bea Cukai Tangerang, Bea Cukai Tangerang gelar P2KP dalam balutan Workshop Teknis Pemeriksaan Limbah Non-B3 bersama seluruh petugas lapangan di wilayah kerja Bea Cukai Tangerang. Workshop dilaksanakan di Ruang Aula Lantai 3 Kantor Bea Cukai Tangerang dan dihadiri oleh Kepala Kantor, Aris Sudarminto beserta perwakilan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Dengan dikumandangi Mars Bea dan Cukai, Bea Cukai Tangerang menyambut baik kedatangan perwakilan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Tak lupa sambutan dari Kepala Kantor, Aris Sudarminto mengenai peran Bea Cukai di Indonesia terutama yang berkaitan dengan penanganan dan pengelolaan limbah non-B3.

Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Ir. Achmad Gunawan Widjaksono, MAS selaku Direktur Verifikasi Pengelolaan Limbah B3 dan Limbah Non-B3. Pembahasan dari definisi limbah, limbah B3, limbah non-B3, dan sampah secara umum, alasan mengapa limbah B3 perlu dikelola, prinsip-prinsip pengelolaan limbah, maupun kebijakan impor limbah non-B3 tak luput dari pemaparan. Kemudian ditegaskan pula mengenai kriteria limbah non-B3 yang dapat diimpor antara lain, tidak berasal dari kegiatan landfill, bukan sampah dan tidak tercampur sampah, tidak terkontaminasi B3 dan limbah B3, dan homogen.

Pendalaman pemahaman pun dilakukan dengan pemaparan mengenai teknis pemeriksaan terhadap limbah non-B3 berupa kertas, logam dan plastik oleh Rima Yulianti selaku Kepala Seksi Notifikasi Limbah B3 dan Limbah Non-B3. Dipaparkan secara rinci mulai dari awal pembukaan segel dan dua pintu peti kemas, identifikasi awal secara visual, pembongkaran, identifikasi jenis material ikutan/pengotor serta langkah terakhir adalah pemberian sampel. Pemaparan materi ditutup dengan sesi diskusi dengan beberapa lontaran pertanyaan.

Dengan sigap, para narasumber menjawab pertanyaan dari para peserta. Dimulai dari standardisasi pemeriksaan limbah oleh surveyor, bagan alir kasus impor limbah non-B3, reekspor limbah, kerap ditanyakan dalam sesi diskusi. Terjawabnya semua pertanyaan menyudahi kegiatan Workshop Teknis Pemeriksaan Limbah Non-B3. Diharapkan dengan terlaksananya kegiatan workshop ini, seluruh peserta dapat memahami pentingnya penanganan dan pemeriksaan secara menyeluruh terhadap limbah non-B3 dengan tujuan masuk Tempat Penimbunan Berikat, terutama dalam menjalankan salah satu fungsi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, yaitu untuk senantiasa melindungi masyarakat dari potensi masuknya barang beracun dan berbahaya.

Bea Cukai Makin Baik!

 

 

Previous Next

Tangerang Selatan, 20 November 2019. Untuk kedua kalinya, Bea Cukai Tangerang (BeTa) menyelenggarakan event andalannya dalam berbagi informasi, diskusi, dan mengedukasi. Dalam balutan tajuk Customs Bonded Class, BeTa kini melangsungkan event tersebut dengan cara yang berbeda. Para pengajar dari Politeknik keuangan Negara STAN (PKN STAN) turut digandeng dalam menyukseskan Customs Bonded Class. Dan kali ini, Customs Bonded Class mengusung tema fasilitas kepabeanan berupa Tempat Penimbunan Berikat dengan spesifikasi Kawasan Berikat juga Pusat Logistik Berikat.

            Customs Bonded Class ditujukan bagi para pengguna jasa di wilayah pengawasan BeTa, khususnya pengguna fasilitas Kawasan Berikat juga Pusat Logistik Berikat. Bertempat di Ruang Aula Kantor BeTa, Wisnu Nuryanto selaku Kepala Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi memimpin berlangsungnya Customs Bonded Class. “Bersama kita lakukan refreshment atau mengingat kembali ketentuan-ketentuan mengenai Tempat Penimbunan Berikat” tukas Wisnu dalam sambutan pembukanya. Selain mengulas peraturan yang ada, topik-topik hangat pun diangkat guna menjadi pelajaran bagi perjalanan proses bisnis di lapangan.

            Pengajar PKN STAN, Masruri, memberikan informasi umum mengenai titik-titik krusial kepabeanan. Tatalaksana impor, ketentuan ekspor, dan hal-hal lain yang menjadi peran serta fungsi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) dipaparkan sebagai pengantar. Kemudian, disambut oleh Marsanto pemaparan mengenai pilar-pilar Kawasan Berikat, dimulai dari perizinan, sampai pencabutan fasilitas. Integrasi antara Kawasan Berikat dengan Pusat Logistik Berikat kini pun menjadi topik hangat yang tak luput dari pembahasan.

            Sebagai pelengkap, pada event yang digelar selama dua hari ini, dilakukan penyegaran kembali terhadap penggunaan dokumen kepabeanan di lingkungan Tempat Penimbunan Berikat. Antusias dari para peserta Customs Bonded Class tertuang dalam sesi diskusi dan tanya jawab dengan para pengajar. Dengan ini, aspirasi dan keluh kesah para pengguna fasilitas tersampaikan secara langsung kepada wadah yang tepat. Peran edukasi kepada masyarakat pun dicapai oleh BeTa dengan pelaksanaan Customs Bonded Class tersebut. Bersama ciptakan pengguna fasilitas yang sadar dan patuh, wujudkan Bea Cukai yang semakin baik.

            Salam fasilitas!

 

 

Previous Next

Tangerang, Rabu 20/11/2019. Bea Cukai melakukan validasi ke salah satu perusahaan pemohon AEO yaitu PT Pratama Abadi Industri (PAI) yang berada di bawah pengawasan Bea Cukai Tangerang (BeTa). Validasi disertai site visit ini merupakan bagian dari rangkaian kunjungan Joint Validation Hong kong Customs and Excise Departement (HKCE) di Indonesia. Turut serta dalam kunjungan tersebut perwakilan Bea Cukai, Buhari Sirait (Atase BC Indonesia-Hong Kong), Albert Ferry Hasoloan Simorangkir – (Kasi Sertifikasi AEO), Wisnu Nuryanto (Kasi Penyuluhan dan Layanan Informasi, BeTa) sedangkan dari HKCE diwakili oleh Mr. James Chui (Head Office of Supply Chain Security Management), Mr. Alfred Wong (Senior Inspector, Office of Supply Chain Security Management), Mr. William Tang (Senior Inspector, Office of Supply Chain Security Management) dan pimpinan PAI.

            Acara diawali menampilkan video company profile PAI dilanjutkan dengan pemutaran video mengenai fasilitas AEO oleh Tim Bea Cukai. Bea Cukai memberikan perhatian penuh terhadap para perusahaan pemohon AEO baik berupa asistensi maupun pengawasan. Hal ini terungkap dari pernyataan Ketua Delegasi Tim AEO HKCE bahwa validasi yang selama ini dilaksanakan Tim AEO DJBC lebih ketat dibandingkan di Hong Kong. Pada proses validasi oleh Tim AEO DJBC, dilakukan penelitian administrasi dan validasi lapangan untuk melihat pemenuhan 13 persyaratan untuk menjadi perusahaan dengan sertifikasi AEO.

            PT Pratama Abadi Industri menyampaikan data pendukung dan inovasi-inovasi untuk memperoleh pengakuan sebagai AEO. Dengan AEO, perusahaan akan mendapat percepatan proses pengeluaran barang dengan tidak dilakukan penelitian dokumen dan/atau pemeriksaan fisik, penyingkatan waktu transit sehingga mengurangi biaya penumpukan (dwelling time) dan pelayanan khusus dalam hal terjadi gangguan perdagangan serta ancaman yang meningkat, serta mendapatkan prioritas untuk mendapatkan penyederhanaan sistem dan prosedur kepabeanan.

            Bea Cukai terus memberikan asistensi bagi dunia industri dengan berbagai upaya untuk mendorong pertumbuhan industri, salah satunya melalui AEO. Sebelum ditutup, Kepala Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi, Wisnu Nuryanto selaku Client Manager dari BeTa menambahkan peran BeTa bagi AEO.

            Sebagai kantor yang mengawasi salah satunya perusahaan penerima fasilitas, BeTa melalui Client Manager-nya menjamin seluruh keperluan perusahaan AEO terkait kepabeanan, terutama perlakuan tertentunya. Mengingat PAI juga melakukan ekspor, tak lupa Wisnu menjelaskan beberapa fasilitas dalam rangka ekspor yang dapat digunakan oleh perusahaan tersebut. Diantaranya adalah kemudahan impor tujuan ekspor (KITE) sehingga diharapkan PAI akan lebih kompetitif baik dari sisi biaya yang lebih murah maupun keunggulan arus kas yang dihemat dari Bea Masuk dan PPN yang dibebaskan. Pada akhir kunjungan, Buhari Sirait berharap joint validation ini dapat mempererat kerjasama kepabeanan antara Bea Cukai dengan HKCE.

 

 

Previous Next

Tangerang, 19/11/2019. Suara cetar membahana Yuwono Sutiasmaji memenuhi ruang pelatihan PT Pardic Jaya Chemicals (PJC) yang berlokasi di Tangerang, Banten. Narasinya yang berapi-api menjelaskan konsep AEO (Authorized Economic Operator) berhasil menarik perhatian para hadirin yang merupakan karyawan dari berbagai divisi di PJC antusias memperhatikannya. Setelah lebih dari dua tahun, sejak 31 Agustus 2019, PJC memegang sertifikat AEO. Hari ini PJC mengadakan penyegaran dan retraining AEO Awareness kepada para pegawainya dari berbagai bagian di hampir seluruh lini perusahaannya, termasuk personil security. Training ini merupakan kewajiban bagi pemegang sertifikat AEO sebagai upaya menjaga keberlangsungan sertifikasinya sekaligus memastikan seluruh elemen perusahaan telah memahami esensi dari AEO secara utuh. Diharapkan, awareness yang tersebar merata di seluruh karyawan perusahaan akan mempekokoh keberadaan dan manfaatnya bagi perusahaan yang bersangkutan.

Menghadirkan Yuwono Sutiasmaji selaku Kepala Seksi Monitoring dan Evaluasi Subdirektorat Program Prioritas dan AEO Direktorat Teknis Kepabeanan Kantor Pusat Direktorat Jenderal dan Cukai (DJBC) acara retraining menjadi meriah. Retorika penyampaiannya berhasil memancing diskusi dan dialog interaktif dari segenap hadirin. Apalagi peserta yang aktif dijamu bingkisan menarik menambah semangat mereka. Sebelumnya, kegiatan dibuka oleh Iwan Hermawan selaku Direktur PJC. Keseriusan beliau menunjukan komitmen yang tinggi dari unsur pimpinan PJC akan pentingnya AEO. “Kegiatan ini sesuai dengan persyaratan AEO yang kelima yaitu mempunyai sistem pendidikan, pelatihan, dan kepedulian dan hari ini kita buktikan bahwa PJC memiliki syarat tersebut” ungkap Iwan disambut tepuk tangan seluruh peserta.

Lebih lanjut, pemaparan Yuwono yang bersemangat ditimpali dengan banyaknya pertanyaan yang menyertai sepanjang materi dijelaskan. “Kita perlu sampaikan ucapan terima kasih kepada security” urai Yuwono disambut aplaus yang lain. “Merekalah yang membuat kita pertama kali tahu bahwa PJC adalah AEO” sambungnya. Bagi sebagian peserta, kegiatan ini mengulang, namun sebagain besar belum pernah mendapatkannya sedetail hari ini langsung dari ahlinya. Termasuk bagian yang terakhir adalah para security yang hari ini hadir menjadi peserta. Yuwono juga menekankan dipenuhinya kewajiban atas pembayaran berkala yang merupakan perlakuan kepabeanan tertentu yang digunakan oleh PJC. “Kewajiban pembayaran berkala bulan Desember harus diselesaikan paling lambat tanggal 20’’ ingat Yuwono. Selain itu, Yuwono pun mengingatkan kembali pentingnya tiga tata nilai budaya AEO. Setiap perusahaan AEO wajib mengetahui dan menghidupkan nilai ini, yaitu partnership, own responsibility, dan mutual trust. Terealisasinya nilai-nilai tersebut akan mendukung kebermanfaatan AEO yang lebih nyata.

Selanjutnya, dijelaskan pula monitoring dan evaluasi (monev) AEO sebagai salah satu kewajiban dalam menjaga kondisi dan 13 hal yang dipersyaratkan dalam AEO tetap terjamin. “Jika monev tidak dilaksanakan bisa berakibat pada pembekuan AEO yang berarti berbagai kemudahan tidak bisa diperoleh” ingat Yuwono. Yuwono pun mengakhiri paparannya dengan menjelaskan kewajiban audit internal yang harus dilaksanakan minimal setahun sekali.

Sebelum ditutup, Kepala Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi, Wisnu Nuryanto selaku Client Manager dari Bea Cukai Tangerang (BeTa) menambahkan peran BeTa bagi AEO. Sebagai kantor yang mengawasi salah satunya perusahaan penerima fasilitas, BeTa melalui client manager-nya menjamin seluruh keperluan perusahaan AEO terkait kepabeanan, terutama perlakuan tertentunya. Mengingat PJC juga melakukan ekspor, tak lupa Wisnu menjelaskan beberapa fasilitas dalam rangka ekspor yang dapat digunakan oleh PJC. Diantaranya adalah kemudahan impor tujuan ekspor (KITE) sehingga diharapkan PJC akan lebih kompetitif baik dari sisi biaya yang lebih murah maupun keunggulan arus kas yang dihemat dari bea masuk dan PPN yang dibebaskan.

 

 

Berita Terbaru

Statistik Pengunjung

439503
Hari IniHari Ini9
KemarinKemarin518
Minggu IniMinggu Ini4066
Bulan IniBulan Ini13022
SemuaSemua439503
Jalan Jalur Sutera Kav. 32 D Serpong Utara, Tangerang Selatan, Banten 15230